Minggu, 12 Januari 2014

Konstruksi Sosial



“KONSTRUKSI CITRA WANITA DALAM IKLAN TELEVISI DAN KONFIRMASI MASYARAKAT TERHADAP KONSTRUKSI TERSEBUT”
(Suatu analisis konstruksi sosial dalam perspektif Peter L. Berger)
(M. Muharli Mua, S.Fils)

Pendahuluan
Televisi merupakan sarana untuk memberikan informasi kepada khalayak ramai. Media ini memiliki peran dalam pembentukan karakter dan moralitas bangsa. Televisi juga merupakan agen perubahan sosial yang justru semakin memperkuat budaya diskriminasi terhadap wanita termasuk dalam iklan televisi. Wanita dicitrakan sebagai sosok yang konsumtif dan selalu berusaha untuk tampil lebih menarik di hadapan kaum pria.
Masalah tentang gender terlebih tentang perempuan telah menjadi perhatian yang cukup besar di negeri ini. Salah satunya adalah munculnya kesadaran mengenai nasib dan kondisi perempuan yang tertindas dan mengalami perlakuan yang kurang adil karena system patriarkhi yang cenderung hegemoni. Dalam perpektif komunikas, iklan televisi merupakan sebuah teks dan karena itu televisi membuka peluang bagi para pembaca teks untuk menafsirnya sesuai dengan latar belakang, kepentingan dan didisiplin ilmu masing-masing. Pencitraan perempuan melalui iklan-iklan komersial yang ditampilkan televisi lebih sering menggunakan perempuan tanpa memandang produk yang ditawarkan. Oleh sebab itu, penulis ingin melihat bagaimana citra perempuan dalam iklan televisi serta ideologi yang dibangun.

Rumusan masalah
            Konstruksi citra perempuan tersebut sedikit banyak mempengaruhi citra perempuan di Indonesia. Citra perempuan yang direpresentasikan melalui iklan diinternalisasikan oleh masyarakat dan akhirnya citra tersebut menjadi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Sebagai contoh: wanita yang disebut cantik adalah mereka yang berkulit putih, seksi, memiliki bibir yang merah dengan warna-warni. Wanita pun dikonstruksikan oleh media sebagai pilar rumah tangga, penggoda, pesolek dan menempatkan wanita dalam posisi kelas dua (lebih rendah dibandingkan pria). Oleh sebab itu, rumusan masalah yang hendak diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana konstruksi citra perempuan melalui media iklan di televisi dan bagaimana citra tersebut dikonfirmasi oleh masyarakat?
2.      Ideologi apa yang dibangun dan dikembangkan media televisi dalam menampilkan perempuan di sektor publik?

Kerangka Konseptual
1.     Konsep tentang konstruksi
Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam bukunya tentang “Social Construction of Reality, Treaties of Sociologi of Knowledge mengatakan bahwa kehidupan sehari-hari menampilkan diri sebagai kenyataan yang ditafsirkan oleh manusia dan mempunyai makna yang subjektif bagi mereka sebagai satu dunia yang koheren.[1]  Menurut mereka, masyarakat adalah produk manusia dan antara masyarakat dan manusia terjadi proses dialektika. Manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk pencari makna memperoleh makna kehidupan dari poses dialektika yang melibatkan tiga proses yakni eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.[2]

a.      Eksternalisasi
Eksternalisasi merupakan proses atau ekpresi diri manusia dalam membangun tatanan kehidupan atau dapat diartikan juga sebagai proses penyesuaian diri.[3] Sebagai konstruksi budaya, gender terbentuk dari sejarah pengalaman manusia yang diinterpretasikan dan dimaknai berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Menurut Kessler, pembagian kerja secara seksual bersumber dari pengalaman awal manusia. Pengalaman awal laki-laki yang berbeda dengan perempuan kemudian melahirkan anggapan yang berbeda dari dua jenis kelamin.[4] Dengan kata lain, eksternalisasi merupakan penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural.

b.     Objektivasi
Objektivasi merupakan nilai-nilai yang bersifat objektif dan dimiliki oleh public. Objektivasi dapat berupa mitos, symbol, ajaran agama, lembaga-lembaga sosial serta praktik-praktik sosial lainnya.[5] Dengan kata lain, ada interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami institusionalisasi.

c.      Internalisasi
           Internalisasi merupakan proses pembelajaran kembali akan nilai-nilai general atau realitas objektif oleh individu dan dijadikan sebagai bagian dari hidupnya. Untuk mencapai taraf ini, individu secara terus-menerus berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial dan budayanya. Sehingga pada akhirnya dalam kasus perbedaan gender ini kaum perempuan dibentuk sebagai suatu pribadi dengan suatu identitas yang dikenal secara subjektif sekaligus objektif.[6] Dalam pengertian bahwa individu mengidentifikasi  diri di tengah lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial di mana individu tersebut menjadi anggotanya.

2.  Iklan
            Iklan merupakan elemen pemasaran yang sangat penting dan merupakan ujung tombak dalam menunjang keberhasilan pemasaran. Dari perpektif ekonomi, iklan melakukan tiga peran sekaligus yakni:[7] pertama, iklan informative yang bertujuan menginformasikan secara objektif kepada konsumen mengenai kualitas barang yang diproduksikan, nilai lebih barang, fungsi-fungsinya, harga serta tingkat kelangkaannya. Kedua, iklan persuasive atau sugestif yakni bertujuan untuk menciptakan kebutuhan akan barang dan jasa yang diiklankan. Iklan ini lebih mengutamakan unsur-unsur perasaan, imajinasi-imajinasi serta realitas bawah sadar manusia. Ketiga, iklan kompetetif yakni untuk mempertahankan dan memproteksi secara kompetif kedudukan produsen di hadapan pelaku produsen lainnya.  Komunikasi periklanan juga menggunakan komunikasi lainnya seperti gambar, warna dan bunyi. Iklan disampaikan melalui dua saluran media massa yakni media cetak dan media elektronik.[8]


3.  Citra perempuan
Tamrin Tamagola[9] menemukan lima (5) cara macam citra perempuan di media yakni: Citra Pigura (menekankan pentingnya perempuan kelas menengah ke atas untuk selalu tampil memikat), citra pilar (digambarkan secara kodrati mempunyai ‘kekuasaan’ dalam rumah tangga), citra peraduan (perempuan dianggap wajar sebagai pemuas hasrat seksual laki-laki), citra pinggan (perempuan hanya sebagai pekerja di dapur dan meringankan tugas laki-laki meski memiliki tingkat pendidikan yang tinggi), citra pergaulan (perempuan ditempatkan sebagai sosok yang sangat ingin diterima dalam suatu lingkungan sosial).

A.     Konstruksi citra perempuan melalui media iklan di televisi
Permasalahan yang terkait dengan konstruksi citra perempuan
            Televisi merupakan media informasi yang dapat memberikan pengetahuan serta wawasan kepada setiap masyarakat. Dalam konteks ini, media televisi melalui iklan-iklan yang ditawarkan telah memberikan suatu perubahan paradigma dalam cara berpikir terhadap sesuatu. Iklan-iklan televisi yang selalu menampilkan perempuan telah banyak menjadikan konsep pemikiran tentang bagaimana citra perempuan serta menempatkan posisi perempuan yang berbeda dengan kaum laki-laki. Konstruksi citra perempuan tersebut sedikit banyak mempengaruhi citra perempuan di Indonesia. Citra perempuan yang direpresentasikan melalui iklan diinternalisasikan oleh masyarakat dan akhirnya citra tersebut menjadi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Sebagai contoh: wanita yang disebut cantik adalah mereka yang berkulit putih, seksi, memiliki bibir yang merah dengan warna-warni. Wanita pun dikonstruksikan oleh media sebagai pilar rumah tangga, penggoda, pesolek dan menempatkan wanita dalam posisi kelas dua (lebih rendah dibandingkan pria).

1.     Persamaan dan Perbedaan
·         (1-2) Sama-sama diperankan oleh pria dan wanita, sama-sama produk tersebut diminum, berbeda produk dan stasiun televisi yang menyiarkan, masing-masing memiliki perbedaan tujuan dan manfaat produk iklan
·         (1-3) sama-sama diperankan oleh pria dan wanita, ada iklan yang disiarkan oleh stasiun televisi yang sama dan ada juga yang di stasium TV yang berbeda, berbeda manfaat produk, berbeda latar setting, berbeda harga produk dan penyajian iklan.
·         (1-4) sama-sama diperankan oleh pria dan wanita, disiarkan oleh stasiun televisi yang sama, ada kesamaan dan perbedaan stasiun televisi dalam penyiaran iklan.
·         (1-5) ada wanita yang melakonkan iklan tersebut, dalam iklan kecantikan ada yang tidak menampilkan pria, manfaat produk yang berbeda, yang satu untuk kesehatan sementara yang satu untuk kecantikan, yang satu diminum sementara yang lain untuk dioleskan di bagian luar tubuh.
·         (1-6) ada kesamaan stasiun televisi, sama-sama untuk obat yang satu untuk kesehatan tubuh sedangkan yang satu untuk obat di luar tubuh, memiliki manfaat produk yang berbeda.
·         (2-3) ada kesamaan stasiun televisi dan diperankan oleh pria dan wanita, yang satu lebih maskulin sementara yang lain lebih pada khasiat obat.
·         (2-4) sama-sama diperankan oleh pria dan wanita, beda stasiun yang menayangkan iklan, manfaat produk berbeda, harga produk masing-masing berbeda.
·         (2-5) sama-sama ada wanitanya, manfaat dan harga produk berbeda, ada iklan yang disiarkan oleh stasiun yang sama, yang satu diminum sedangkan yang lain untuk obat luar tubuh (oles).
·         (2-6) sama-sama diperankan oleh pria dan wanita serta anak, yang satu diminum sedangkan yang lain untuk obat luar, beda manfaat dan harga masing-masing produk
·         (3-4) sama-sama diperankan oleh wanita dan pria, ada iklan yang ditayangkan oleh stasiun televisi yang sama, harga dan manfaat produk berbeda.
·         (3-5) sama-sama ada wanitanya, ada iklan yang tayangkan oleh stasiun televisi yang sama, beda manfaat dan harga produk, penggunaan produk yang berbeda.
·         (3-6) sama-sama diperankan oleh pria dan wanita, ada kesamaan dan perbedaan stasiun televisi yang menayankan iklan, manfaat dan khasiat produk berbeda, harga masing-masing produk berbeda.
·         (4-5) sama-sama ada sosok wanita, yang satu ada peran wanita dan yang lain tidak ada, ada kesamaan stasiun televisi yang menayangkan produk, manfaat dan tujuan produk yang ditawarkan berbeda, harga produk masing-masing berbeda.
·         (4-6) sama-sama ada sosok pria dan wanita, ada kesamaan dan perbedaan stasiun televisi dalam menayangkan produk, yang satu ada sosok anak sedangkan yang lain tidak, manfaat dan tujuan produk berbeda.
·         (5-6) sama-sama ada sosok wanita yang ditampilkan, yang satu tidak menampilkan sosok pria, ada kesamaan stasiun televisi yang menayangkan produk tertentu, manfaat dan harga produk masing-masing berbeda.

2.     Tendensi-tendensi
Iklan  makanan dan minuman
Permen relaxa: permen relaxa bisa memikat lawan jenis dengan bau harum yang dimunculkan oleh pemakannya. Iklan tersebut menggambarkan seorang wanita muda dengan dandanan rapi yang makan permen relaxa dan membuat seorang pria terpesona karena keharuman bau mulut wanita tersebut. iklan ini diikuti lagu “relaxa permen wangi penyegar mulut”. Iklan tersebut digambarkan secara sederhana bahwa trend pola hubugan sosial antara pria dan wanita disimplikasikan sebagai mengarah pada hubungan seksual. Disamping itu, problem hubungan seksual yang berkonotasi seksual ini akan menjadi muda dan lebih sederhaana apabila ada alat pemikat lawan jenis, baik bagi mereka yang sudah terikat kontrak sebagai suami istri maupun kalangan muda yang baru mencoba untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.
Mountea: karakter wanita digambarkan sebagai sosok yang selalu berusaha untuk menarik perhatian publik, sedikit genit, dan memiliki tampang penggoda yang sering diekspresikan dari kerling mata, senyumannya dan gerakan tubuh. Iklan produk yang serupa juga ditampilkan pada iklan MIZONE. Dalam iklan tersebut, wanita digambarkan sebagai sosok yang cenderung berperilaku genit dan memiliki senyum menggoda dengan gaya yang melenggang dan mata menatap ke semua arah. Karena gaya berjalan yang genit dan mata memandang ke segala arah maka karakter wanita menabrak dan kepalanya membentu tiang yang secara kebetulan ada ditengah jalan.
Permen capilanoc: mengandung pesan bahwa permen pada dasarnya bisa digunakan sebagai sarana komunikasi yang baik bagi pria dan wanita serta mampu memperbaiki hubungan sosial di antara keduanya. Dengan menggunakan permen sebagai umpan pemikat, seorang pria mampu membuat pacar yang cemberut menjadi tersenyum dan ikut larut dalam suasana nikmat dan melupakan masalah yang sedang dihadapinya. Iklan permen secara umum biasanya digarap dengan setting cerita mengarah ke cerita ringan bernuansa agak mesum dan vulgar. Ini terlihat dalam iklan permen: Kis before you kiss, kalau ada relaxa pasti beda, capilanoc, sebelum di mulut sudah terasa coklatnya.

Iklan obat-obatan
Bissolvon: obat batuk yang ditawarkan terbukti efektif, terbukti dengan sekali minum obat maka karakter anak langsung sembuh, bisa tersenyum dan kemudian tidur. Gambaran cerita yang hendak digambarkan adalah wanita ideal. Ibu yang tahu segala urusan rumah tangga dan mampu menyelesaikan masalah rumah tangga dengan cepat tanpa merasa terpaksa dan terbebani oleh tugas tersebut. Sedangkan karakter pria dihadirkan dengan gambaran yang kurang tahu tentang tata ruang dalam urusan rumah tangganya. Ini dapat dilihat dari ketidaktahuannya tentang di mana obat batuk untuk anaknya diletakkan dan apa yang harus dilakukan ketika anaknya sakit.
 
Obat batuk vicks formula 44: stereotype peran pria dan wanita. Karakter pria (suami) digambarkan seperti bayi yang tidak mampu mengatasi masalah kesehatannya sendiri dan harus dilindungi serta dirawat oleh istrinya. Ini terlihat dari ketidakmampuannya dalam mengatasi dan mengambil inisiatif ketika sedang batuk. Sedangkan wanita (istri) digambarkan  seperti malaikat yang mampu mengurusi segala urusan rumah tangga termasuk melindungi dan menjaga kesehatannya.

Iklan dalam produk maskulin
Vipro G obat untuk perokok: obat untuk perokok. Kehadiran wanita dalam iklan ini sebagai pelengkap dan fungsinya mendampingi kaum pria. Wanita digambarkan untuk menjaga kesehatan para pria. Ini terlihat dari kepedulian karakter wanita terhadap kesehatan pria yang perokok yang tidak peduli dan atau tidak tahu bagaimana cara memelihara kesehatannya. Wanita digambarkan sebagai sosok yang ingin menjadi pusat perhatian dan gemar mencari perhatian lawan jenis dengan senyuman dan bahasa tubuhnya. Wanita digambarkan sebagai sosok yang suka menggoda lawan jenis dengan gerakan mata yang mengerling dan senyum bibirnya yang genit.
 
M150 Bisa: pria digambarkan sebagai karakter yang gagah dan kuat secara fisik dan menjadi pelindung dan penjaga kaum wanita. Sedangkan wanita digambarkan sebagai sosok yang lemah, tidak berdaya dan selalu membutuhkan perlindungan dari pria. Wanita digambarkan tidak mampu untuk menolong dirinya sendiri dari bahaya yang mengancam. Sedangkan pria selalu siap kapanpun dan dalam situasi apapun untuk memberikan pertolongan bagi kaum wanita.
Axe land: kekaguman para wanita terhadap pria. Karakter pria dihadirkan dalam sosok yang hebat dan jantan yang selalu dikagumi para wanita karena daya tariknya. Wanita dihadirkan sebagai sosok yang pasif yang terlalu tertarik pada sesuatu yang hebat seperti kekuatan dan kegesitan yang dimiliki para pria.
Rokok jarum mezzo: kaum pria digambarkan sebagai sosok yang kuat, lincah, gesit, hebat, agak sombong dan selalu menang dalam kompetisi. Sedangkan sosok wanita digambarkan secara sebaliknya yakni lemah gemulai, lamban, pengagum kaum pria, selalu kalah, dan bisa menikmati kekalahannya dari pria.

Iklan produk otomotif
 
Honda supra fit: kaum pria digambarkan sebagai kelompok yang hebat, suka ngebut di jalan raya, dan selalu berusaha menarik perhatian para wanita dengan kehebatan dan fasilitas yang dimilikinya. Sedangkan sosok wanita dihadirkan sebagai karakter yang pasif yang selalu mengagumi kehebatan pria.
Yamaha: sama halnya dengan iklan Honda supra fit yakni menggambarkan kekaguman karakter wanita terhadap pria. Wanita digambarkan sebagai karakter yang tidak mandiri dan lebih sering tergantung pada pria. Hal ini nampak pada iklan tersebut “seorang wanita sedang menunggu dijemput oleh pria”. Pria ditampilkan sebagai sosok raja yang jantan dan perkasa (mengebut di jalan raya), kehadirannya selalu dinantikan oleh wanita dan merasa bangga karena dia dibutuhkan oleh wanita.

Iklan produk kecantikan
Citra lotion pemutih: iklan ini menggambarkan bahwa wanita harus selalu tampil cantik dengan indicator cantik yaitu kulit harus putih, bersih dan halus, seputih putri salju dalam dunia dongeng. Iklan ini menunjukkan bahwa seorang wanita harus selalu kelihatan cantik dan menarik. Ditambah lagi dengan kalimat provokatif: mampu mencerahkan, menghaluskan dan memutihkan kulit tubuh dalam waktu enam minggu.
Kanna, lotion kaki: iklan ini mencoba menggambarkan bahwa masalah kecantikan termasuk kehalusan tangan dan kaki merupakan problem yang sangat penting bagi seorang wanita karena kecantikan merupakan modal bagi wanita untuk menarik perhatian pria. Wanita ditampilkan sebagai sosok yang sangat peduli dengan masalah kecantikan dan kaki.
 
Maybelline lipstick: kesan dalam iklan ini adalah betapa pentingnya sebuah bibir yang indah bagi wanita. Bibir yang indah harus kaya akan warna-warni supaya kaum pria tertarik. Wanita lebih bisa tampil percaya diri ketika merasa dirinya cantik dengan bibir yang indah, lembut, merah dan bagus. Disamping itu, wanita merasa sudah menjadi sosok sosial yang sempurna manakala dia sudah memiliki standar kecantikan fisik seperti kulit putih dan halus, rambut indah, tubuh langsing serta bibir indah merah menyala.

Iklan produk rumah tangga
 
Shampoo rejoice rich: dalam iklan ini, untuk tampil cantik dan menarik perhatian orang lain maka wanita harus memiliki rambut yang indah dan mudah diatur.
Obat nyamuk HIT elektrik: iklan ini menunjukkan peran dan tanggung jawab seorang wanita (ibu) dalam menjaga dan mengelola urusan rumah tangga. Iklan ini menunjukkan bahwa keperluan untuk menjaga kenyamanan tidur anak dan semua anggota keluarganya adalah tugas dan tanggung jawab utama ibu. Iklan ini juga menggambarkan bahwa wanita sangat menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga dan melakukan pekerjaan dalam rumah tangganya. Obat nyamuk ini dianggap lebih modern dan berusaha untuk menyerang dan mendiskreditkan obat nyamuk bakar yang dianggap kuno.
Obat nyamuk cair force: Wanita digambarkan selalu berusaha untuk melakukan hal-hl yang dianggapnya terbaik untuk memamerkan tugasnya sebagai pengurus rumah tangga. Wanita juga digambarkan selalu tersenyum dalam menjalankan tugas rumahnya sebagai tanda bahwa wanita tersebut ikhlas dan menikmati tugas dan perannya. Iklan ini muncul setelah adanya larangan dari dinas kesehatan terhadap peredaran obat nyamuk cair tertentu karena terindikasi mengandung zat yang membahayakan.

Interpretasi dan analisis
            Dalam konteks pemikiran Peter L. Berger tentang konstruksi sosial maka dapat dikatakan bahwa media telah memberikan transfer of knowledge kepada masyarakat sehingga masyarakat yang menerima pengetahuan tersebut kemudian mengkonfirmasinya. Masyarakat yang hidup dalam suatu sosio-kultur mengalami penyesuaian dalam lingkungannya (eksternalisasi), kemudian mengalami interaksi sosial dan mengenal nilai-nilai yang dimiliki oleh public atau mengalami institusioanalisasi dan sesudah mengalami objektivasi ini, lalu masyarakat menginternalisasi nilai-nilai tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari hidup mereka. Dalam konteks ini, wanita sebagai masyarakat yang hidup dalam lingkungan sosial mengalami konstruksi sosial yang dibangun oleh media. Berdasarkan iklan-iklan yang telah dipaparkan sebelumnya maka ada beberapa konstruksi media terhadap perempuan dan konstruksi tersebut dikonfirmasi oleh masyarakat.

a.      Eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi media terhadap citra perempuan serta konfirmasi masyarakat pada konstruksi tersebut
1.     Wanita sebagai pilar rumah tangga
Iklan televisi yang menampilkan citra perempuan dalam produk rumah tinggi bersumber dari konstruksi lembaga periklanan. Lembaga periklanan televisi mengangkat citra perempuan yang mula-mulai mengakar pada konteks sosio-kultural. Dalam pengertian ini, terjadi eksternalisasi bahwa perempuan sudah dikonstruksikan dalam budaya bangsa sebagai pengurus rumah tangga. Proses eksternalisasi ini kemudian terobjektivasi dalam lembaga periklanan serta mengalami internalisasi sehingga wanita dikonstruksian melalui iklan sebagai pilar dalam rumah tangga.
Dalam iklaan produk makanan dan rumah tangga dapat ditemukan bahwa:
·         Sesibuk apapun seorang wanita (isteri atau ibu) harus menyempatkan diri untuk mengurus dan menjaga kesehatan anak-anaknya.
·         Wanita harus cerdas dalam mengatasi masalah keluarga dan tahu langkah yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan anak-anaknya.
·         Urusan rumah tangga seperti memasak adalah tugas wanita (terlihat dalam iklan).
·         Wanita harus tanggap dan siap sedia terhadap apa yang menjadi keinginan pria.
·         Wanita yang ideal adalah sosok yang selalu memperhatikan kesehatai suami
·         Wanita yang sempurna adalah sosok yang mampu menjadi penjaga dan pelindung dalam keluarga.
·         Wanita akan merasa bahagia apabila suaminya sehat dan sukses dalam karir.
·         Dalam urusan rumah tangga, pria tidak bisa mandiri dan tergantung pada wanita.
Hasil konstruksi media iklan terhadap citra perempuan ditampilkan dalam televisi. Iklan tersebut kemudian tereksternalisasi oleh masyarakat, lalu masyarakat melihat dalam iklan tersebut kemudian menginternalisasikannya dengan mengkonfirmasi bahwa wanita yang ideal adalah mereka yang selalu menjadi pengurus rumah tangga. Nilai-nilai konstruksi ini menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat sehingga masyarakat menyimpulkan bahwa wanita yang sempurna adalah sosok yang mampu menjadi pelindung dalam keluarga.

2.     Wanita sebagai pemikat pria dan pesolek serta wanita sebagai the second class
Iklan televisi melihat kehidupan masyarakat yang menempatkan perilaku perempuan sebagai pemikat (eksternalisasi). Perilaku tersebut diobjektivasi oleh lembaga periklanan sehingga lembaga tersebut mengkonfirmasi dengan menginternalisasi bahwa wanita dicitrakan sebagai pemikat pria, pesolek dan sebagai kelas dua. Citra ini kemudian direpresentasikan melalui iklan-iklan televisi yakni sebagai berikut.
·         Wanita merupakan sosok yang menarik secara alamiah. Wanita yang secara alamiah memiliki daya tarik tersendiri divisualisasikan sebagai sosok yang gemar mencari perhartian pria. Misalnya dalam iklan bissolvon seorang wanita dengan sengaja menggoyangkan pinggulnya secara berlebihan untuk menarik perhatian pria.
·         Wanita divisualisasikan sebagai sosok yang genit.
·         Wanita dihadirkan sebagai sosok penggoda kaum pria misalnya dengan mengeluarkan nada suara manja dan sensual (mendesah).
·         Wanita selalu ingin cantik.  Wanita biasanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi kalau dia menyadari bahwa dirinya cantik. Hal ini jelas terlihat dalam iklan shampoo dan iklan pemutih. Dalam media massa, wanita yang cantik berarti memiliki kulit putihm halus, seksi, bibir merah dan lembut, memiliki rambut halus, memakai baju bagus nan seksi dan memiliki kaki yang indah.
·         Wanita akan berbuat apa saja untuk menjadi cantik. Untuk memperoleh kulit yang putih dan halus maka wanita harus mengoleskan cream pemutih kulit, untuk memilliki rambut yang indah harus menggunakan shampoo rejoice dan untuk memiliki bibir merah dan lembut harus memakai lipstick tertentu serta untuk memilliki kaki yang halus harus mengoleskan cream kaki merek tertentu.
·         Wanita divisualisasikan sebagai pendamping kaum pria.
·         Wanita selalu kalah dari pria (iklan rokok dan M150)
·         Wanita sebagai pengagum pria
Ketika konstruksi media terhadap citra perempuan terkonfirmasi oleh masyarakat maka hal itu terjadi pula proses eksternalisasi. Masyarakat yang melihat dan menonton iklan tersebut mengamini bahwa ternyata kaum wanita adalah sosok yang genit dan pemikat pria. Dan kaum wanita pun memanfaatkan citra mereka untuk menggoda kaum pria untuk tujuan tertentu serta masyarakat pun menginternalisasikan bahwa semua wanita itu adalah penggoda serta menempatkan wanita sebagai sosok kelas dua dibandingkan dengan kaum pria. Oleh sebab itu, melalui konstruksi tersebut sejatinya terjadi bias jender yakni menempatkan wanita dalam lebih rendah dari pria. Konstruksi-konstruksi semacam ini mempengaruhi paradigma masyarakat dan masyarakat menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain bahwa apa yang ditampilkan oleh media merupakan suatu realitas. Nah, menurut Peter L. Berger bahwa realitas adalah sebuah konstruksi sehingga media dan masyarakat sebenarnya hidup dalam sebuah konstruksi sosial. Dalam konteks ini, media memberikan konstruksi terhadap citra perempuan kemudian citra tersebut dikonfirmasi oleh masyarakat kemudian apa yang hidup dalam masyarakat dikonstruksikan lagi oleh media. Dengan kata lain, terjadi proses dialektis antara konstruksi media dan masyarakat.

b.     Ideologi Media Iklan
Iklan televisi menganut ideologi ekonomi kapitalis dengan cara mempertahankan budaya lokal yang diwarnai dengan dominasi kaum pria. Tujuan dasar pembuatan produk iklan adalah menjual produk agar memperoleh keuntungan ekonomi serta menempatkan perbedaan jender sehingga terjadi bias jender. Kemudian terjadi eksploitasi terhadap wanita demi kepentingan ekonomi.


Kesimpulan
Iklan televisi dan masyarakat menempatkan mengkonstruksikan wanita sebagai:
a.       Pilar dalam urusan rumah tangga yakni pertama menghadirkan bintang wanita seabgai figur yang menawarkan produk rumah tangga dengan target wanita. Kedua, memvisualisasikan karakter wanita yang sibuk dalam urusan dapur, menjaga kesehatan dan kenyamanan anak dan suami, serta keikhlasan wanita untuk menerima tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
b.      Sosok yang suka berdandan.
c.       Pemikat pria.
d.      Wanita sebagai kelas dua dibandingkan kaum pria.
e.       Adanya ideologi kapitalisme yang dibangun dalam media iklan




DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobour, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing. Bandung: Rosda Karya, 2002.

Clifford Geetz, The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.

James Jena, “Etika dalam Iklan” Jakarta: majalah Karya, tahun XXIII. No. 3, 1997

L. Berger, The Sacred Canopy: Elements of Social Theory of Religion. New York: Doubie Day, 1994.

L. Burger dan Luckmann, Social Construction of Reality, Treaties of Sociologi of Knowledge. New York:   Penguin Books, 1990.

S. Evelyn Kessler, Women: A Anthropological Perspective. New York: Holt Rinehart dan Wiston, 1976.

Tamrin Amal Tamagol, Citra Wanita dalam Iklan Majalah Wanita Suatu Tinjauan Sosiologi Media, diedit oleh Idy Subandy Ibrahim dan Hanif Suranto. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1998.




[1] L. Burger dan Luckmann, Social Construction of Reality, Treaties of Sociologi of Knowledge, (New York: Penguin Books, 1990), hlm. 1.
[2] Bdk. Ibid. hlm. 3-5
[3] Ibid. hlm. 3
[4] S. Evelyn Kessler, Women: A Anthropological Perspective, (New York: Holt Rinehart dan Wiston, 1976), hlm. 10.
[5] Clifford Geetz, The Interpretation of Cultures, (New York: Basic Books, 1973), hlm. 15.
            [6] L. Berger, The Sacred Canopy: Elements of Social Theory of Religion, (New York: Doubie Day, 1994), hlm. 2.
[7] James Jena, “Etika dalam Iklan” (Jakarta: majalah Karya, tahun XXIII. No. 3, 1997), hlm. 47-48.
[8] Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing, (Bandung: Rosda Karya, 2002), hlm. 116
[9] Tamrin Amal Tamagol, Citra Wanita dalam Iklan Majalah Wanita Suatu Tinjauan Sosiologi Media, diedit oleh Idy Subandy Ibrahim dan Hanif Suranto, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1998), hlm. 333.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar